Jumat, 06 Maret 2015

Posted by Unknown On 06.09
Tari Bedhaya Ketawang yang dilakukan oleh Sembilan orang penari banyak mengandung makna simbolis yang selalu terkait dengan pandangan filsafat masyarakat yang mendukungnya. Maka dapat dikatakan bahwa dalam tari Bedhaya Ketawang ada keterkaitan dengan kultur zamannya. Jumlah Sembilan yang dipilih adalah jumlah bilangan terbesar menurut pandangan orang Jawa. Hal ini selalu dikaitkan dengan perwujudan makrokosmos, sehingga jumlah bilangan penari pada tarian Bedhaya Ketawang merupakan perwujudan makrokosmos dan mikrokosmos.
Hal ini tidak terlepas pada kepercayaan masyarakat Jawa di masa itu yang meyakini tentang kesejajaran jagat raya yaitu dunia manusia. Menurut kepercayaan ini, manusia senantiasa berada pada penjuru mata angin, bintang-bintang dan planet. Jumlah Sembilan penari pada tari Bedhaya Ketawang merupakan simbol mikrokosmos (jagat raya) yang ditandai dengan sembilan arah mata angin yaitu : tengah (sebagai poros), utara, selatan, timur, barat, timur laut, barat laut, tenggara, dan barat daya. Dalam kitab Wedhapariksama dijelaskan bahwa sembilan arah mata angin dilambangkan dengan bentuk cakra dengan pusat lingkaran di tengah. Kesembilan arah itu disebut nawa-dhara atau sembilan jenis sikap. Dari nawa-dhara lahirlah sembilan jenis sakti yang disebut nawa-natha (sembilan penari).
Selain itu jumlah sembilan tersebut juga merupakan simbol alam semesta dengan segala isinya yang mencakup : bintang, bulan, matahari, angkasa (langit), bumi (tanah), air, api, angin, dan makhluk yang ada di dunia.
Dalam tari Bedhaya Ketawang, jumlah sembilan penari masing-masing mempunyai peran sebagai :  batak, endhel, ajeg, gulu, dhadha, apit ngarep, apit mburi, apit meneng, endhel, endhel weton dan bucit. Makna dan latar belakang penyusunan tari Bedhaya Ketawang berkaitan dengan nilai kaum ningrat, bertitik tolak dari simbol kehidupan religo-magis Hindu-Jawa seperti uraian berikut ini.
Makna simbolik dalam tari Bedhaya Ketawang yang disebut makna simbolik nilai dualisme dapat dilihat dan dihayati pada bentuk kemanunggalan antar batak dan endel ajeg dalam hubungannya dengan Rwa-Binedha (Proyek Sarana Budaya Bali, 1975/1976:60-61). Pada formasi perangan, endhel ajeg dan batak memegang peran utama, sedangkan ketujuh penari lainnya berperan sebagai penari kelompok. Dalam formasi peranan ini dilukiskan bahwa endhel ajeg berusaha menaklukan batak, tapi tidak ada satupun yang menang atau kalah.
   Gambar Formasi perangan
Pada formasi ini batak dan endhel ajeg berdiri, sedangkan yang lain duduk.
Makna yang bisa diambil dari adegan ini adalah figur permusuhan atau dalam istilah Jawa dikenal dengan loro-loroning atunggal. Akan tetapi loro-loroning atunggal ini senantiasa diawali dengan proses yang melambangkan percintaan.
Di dalam tari Bedhaya Ketawang yang menunjukan suatu kaitan dengan sifat Rwa-Bineda secara jelas menunjukan adanya hubungan dengan berlangsungnya upacara-upacara kesuburan. Ini sesuai denga tema tari ini yang melambangkan kesuburan yaitu menggambarkan hubungan seksual antara panembahan Senopati beserta keturunannya dengan Kanjeng Ratu Kencana Sari, yang ditransformasikan dengan gerak gerak percintaan yang halus secara abstrak.
Kembali kepada penari yang berjumlah Sembilan yang merupakan symbol makrokosmos (jagading manungsa) ditandai dengan adanya Sembilan lubang yang ada pada manusia (lubang hawa nafsu) yaitu : dua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, satu mulut, satu anus, dan satu organ seks. Semua terwakili dalam peran penari Bedhaya Ketawang masing-masing : penari batak sebagai kepala atau akal, penari endhel ajeg sebagai semua nafsu dan keinginan hati, penari jangga mewujudkan bagian leher, penari dhadha menunjukan bagian dada, penari apit ngarep muwujudkan bagian lengan kanan, penari apit mburi mewujudkan bagian lengan kiri, penari endhel waton mewujudkan bagian organ seks,

Tari bedhaya ketawang mengenakan dodot ageung bangun tulak sebagai salah satu cirinya. Bentuk dodot bangun tulak ini merupakan perwujudan kesadaran akan perlindungan. Ini tampak dengan warna khas pakaian dodot bangun tulak yaitu hijau biru tua dengan warna putih merupakan symbol daya hidup, berkembangnya hidup dari kuasa Tuhan, merupakan sinar putih sebagai asal mula hidup. Warna biru merupakan simbol keluhuran budi, arif bijaksana, waspada, keimanan, keteguhan hati dalam perjuangan dan pengabdian. Motif alas-alasan merupakan perwujudan dengan Tuhan. (Haryonagoro, 5 Oktober 2001 ).

Posted by Unknown On 06.03

         Bedhaya at Palace dance was originally a sacred dance that is laden with symbols of life because it’s
not just a dance movement, but an action that is displayed and that becomes the life reference. Bedhaya
is presented as a mirror of Javanese culture axiological which includes ethical and aesthetic values . It
is a reflection of manunggaling kawula-Gusti in terms of its ethical dimension and it has the aesthetic
values of the motion, fashion, and makeup. Bedhaya dance philosophy is summaried in the doctrine
of ngelmu sangkan paran covering three things: the first it’s related to the human consciousness that
comes from God (urip iki saka sapa); the second, it is irelated to the duties and obligations of human
beings in the world (urip iki arep apa); and the third, it is related to man’s return to his Lord (urip iki
pungkasane piye). Therefore, in the moral ethics context, Javanese life purpose is how to be a good man
to reach the manunggaling kawula with Gusti as it is believed that goodness and beauty (mind) are the
manifestation of the Essence of the Most Holy. The journey of human life portrayed in lampah bedhaya
of majeng beksa , beksa to mundur beksa is a role model to determine the choice between good and bad .

Posted by Unknown On 05.55



                Dalam catatan sejarah nan ada, disebutkan bahwa tarian Bedhaya ini merupakan salah satu tarian nan mengandung unsur magis di dalamnya. Tarian ini sempat mengalami masa keemasan di abad 18, ketika raja Surakarta, yaitu Pakubuwono II, III, IV dan VIII berkuasa.
Di mana pada saat mereka berkuasa, banyak tercipta tari Bedhaya. Sayangnya pada saat ini, gending Bedhaya nan masih tersisa hanya beberapa saja, di antaranya Bedhaya Durudasih, Bedhaa Pangkur, dan Bedhaya Tejanata.
Selain itu, masih ada pula Bedhaya Sukaharja, Bedhaya Kaduk Manis, Bedaya Sinom, Bedhaya Kabor, Gambir Sawit, serta nan paling terkenal ialah Bedhaya Ketawang.
Salah satu penyebab mengapa banyak tari Bedhaya hilang dan tak ada nan melanjutkan ialah disebabkan oleh pihak Keraton Surakarta sendiri. Pihak kraton melarang tarian tersebut dipelajari secara spesifik atau juga didokumentasikan dalam bentuk buku, sehingga bagi mereka nan ingin belajar tarian tersebut harus datang ke kraton.
Penyebab lain dari hilangnya tarian Bedhaya ini ialah sebab tarian ini tak boleh ditarikan oleh sembarang orang. Hanya perempuan nan belum menikah saja nan boleh menarikan tarian tersebut. Kondisi ini cukup membatasi jumlah orang nan mampu menguasai tarian tersebut.
                Dari sekian banyak tarian Bedhaya nan masih tersisa, Bedhaya Ketawang merupakan salah satu nan paling sering ditampilkan hingga saat ini. Salah satunya sebab tarian Bedhaya Ketawang merupakan tarian nan paling tua usianya dan juga menjadi salah satu tarian sakral kerajaan.
Bedhaya Ketawang dianggap sebagai salah satu pusaka Kraton nan harus dijaga kesakralannya. Banyak anggaran nan harus dipenuhi, ketika tarian tesebut dipertunjukkan.
Itulah mengapa tarian ini hanya ditampilkan pada saat-saat tertentu, seperti ketika upacara Jumenengan atau pengangkatan raja baru di lingkungan kraton.
Namun demikian, tak semua tarian Bedhaya ini sakral dan tak dapat ditonton oleh masyarakat umum. Sebab, ada beberapa jenis tarian Bedhaya nan dapat ditarikan tanpa perlu melakukan ritual spesifik atau dengan syarat tertentu, sehingga diciptakanlah beberapa jenis tarian Bedhaya lain nan tujuannya hanya buat bersenang-senang dan kepuasan batin semata.
Bagi masyarakat kraton , tarian bukan sekedar sebuah prosesi pencapaian kesenangan semata. Namun, melalui tarian dapat disampaikan perwujudan rasa syukur, ketika terjadi sebuah peristiwa di dalam lingkup kraton tersebut. Misalnya, saja digunakan buat menyambut kelahiran seorang anak atau dapat dijadikan media buat menyambut kadatangan para tamu.
                Di dalam kraton, tari-tarian tersebut disajikan oleh para kelompok abdi dalem putri nan berada di bawah perintah Pengageng Parentah Keputren atau penguasa lingkungan kraton bagian putri.
Mereka memiliki tugas spesifik buat menarikan tarian Beddhaya. Abdi dalem nan bertugas menari ini disebut dengan abdi dalem Bedhaya. Pada abdi dalem ini, bila tak sedang menari, memiliki tugas buat membantu menjaga keamanan di lingkungan mereka.
Keterbukaan kraton Surakarta kepada masyarakat, terkait dengan masalah tarian baru dimulai ketika kekuasaan kraton Surakarta berada di tangan Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XII.
Tepatnya, sejak tahun 1970, Raja PB XII mulai memberikan kesempatan masyarakat buat turut belajar tentang tarian Bedhaya di luar lingkungan kraton. Salah satu institusi pertama nan memanfaatkan kesempatan tersebut ialah Akademi Seni Karawitan Indonesia atau ASKI, nan pada saat itu masih berada di kawasan Gelanggang Mulyo Baluwarti.
Dengan adanya ijin dari PB XII ini, para nayaga serta pengeprak dari dalam kraton, diberi kesempatan buat berlatih bersama dengan masyarakat umum. Dari sinilah kemudian tarian Bedhaya mulai dapat dipelajari serta ditampilkan di luar lingkungan kraton.
Tarian Bedhaya sendiri, dimainkan oleh sembilan orang perempuan. Masing-masing penari akan diberi dandanan busana serta tata rambut nan sama persis. Namun, meski memiliki dandanan nan sama, mereka diberi nama nan berbeda buat setiap orangnya.
Ada sembilan nama nan digunakan oleh para penari Bedhaya tersebut, antara lain Batak, Gulu, Dadha, Endhel Weton, Endhel Ajeg, Apit Meneng, Apit Wingkung, dan Apit Ngajeng Bancit.
                   Menurut Ki Hajar Dewantara, Bedhaya merupakan rakitan tarian nan dilakukan oleh sembilan orang, nan ditata dalam sebuah ritmis dan standen. Ritme nan ada dalam tarian Bedhaya ini memiliki kekhasan tersendiri. Konvoi tarian Bedhaya ini cenderung lebih halus dan tak terdapat konvoi nan menghentak, sehingga cenderung lebih landai.
Ada sebuah cerita mistis nan sering terdengar dalam pertunjukan tari Bedhaya ini. Salah satunya adalah, bahwa pada saat tarian ini ditampilkan, seolah-olah akan nampak ada sepuluh orang nan sedang memainkan tarian tersebut. Padahal, secara konkret hanya ada sembilan orang nan menjadi penari tarian Bedhaya.
Diyakini, bahwa tambahan satu orang tersebut ialah jelmaan dari Nyi Roro Kidul nan turut masuk ke dalam tarian dan bergabung bersama para penari tersebut. Namun, cukup sulit buat melihat nan mana penari nan orisinil dan mana penari nan merupakan jelmaan sebab masing-masing memiliki dandanan nan sama persis.
Masih banyak lagi ragam seni tarian provinsi Jawa Tengah selain dari tari Bedhaya. Demikian uraian mengenai seni tradisional tarian dari Jawa Tengah. Semoga uraian tersebut bermanfaat dan menambah wawasan Anda.

Sabtu, 28 Februari 2015

Posted by Unknown On 00.01



Komposisi tari putri klasik gaya Yogyakarta yang dianggap sebagai pusaka dibawakan oleh sembilan penari puteri dan bertemakan cerita legenda, babad atau sejarah.
Misalnya :
-          Bedhaya semang, yang merupakan pusaka Mataram, menggambarkan pertemuan leluhur antara Panembahan Senopati dan Ratu Kidul.
-          Bedhaya Bedah Madiun yang menggambarkan peperangan Mataram dengan Madiun.
      Tari Bedhaya disebut Bedhaya sanga karena penarinya berjumlah sanga atau sembilan, sebuah komposisi tari kelompok puteri yang ditarikan oleh sembilan penari wanita.
      Tari bedhaya ini termasuk tarian putri yang halus, luhur, serta adiluhung, indah dan ritual. Melalui tari bedhaya para putri sultan dilatih dan ditanamkan pendidikan tentang etika, estitika dan kehalusan budi pekerti oleh sultan sebagai bekal hidup di lingkungan istana. Menurut Babad Nitik, Bedhaya adalah gubahan Kanjeng Ratu Kidul.
      Pada masa Sultan Hamengku Buwana I beliau membangun tari bedhaya tersebut sebagai tarian ritual istana. Disebut ritual karena ada persyaratan-persyaratan tertentu di dalam penyelenggaraannya. Misal : penari harus suci (tidak sedang menstruasi), sebelum pertunjukan harus berpuasa, tempatnya suci di Bangsal Kencana, ada sesaji, waktunya tertentu, ada pemimpin, dan lain-lain.
      Secara umum Beksan Bedhaya ditarikan oleh sembilan orang remaja putri yang disusun sesuai dengan keadaan badan manusia. Dengan sifatnya yang sakral, artibedhaya lazim mengambil makna filosofis, sosio religi, etis dan moral, serta ajaran hidup yang dipandang aktual. Dalam suatu masa tertentu segi-segi tersebut tampaknya secara turun temurun telah menjadi konsep baku yang mendasari konsep estetis dan konsep koreografis tari bedhaya.
Semang, Bedhaya.
      Salah satu tari putri klasik di Istana Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I dan dianggap sebagai pusaka. Hal ini dapat dibuktikan pada saat awal pertunjukannya para penari keluar dari Bangsal Prabayeksa, yaitu tempat untuk menyimpan pusaka-pusaka Kraton menuju Bangsal Kencono. Tari Bedhaya Semang yang sangat disakralkan oleh Kraton merupakan reaktualisasi hubungan mistis antara keturunan Panembahan Senopati sebagai Raja Mataram Islam dengan penguasa Laut Selatan atau Ratu Laut Selatan, yaitu Kanjeng Ratu Kidul. Menurut Babad NitikBedhaya adalah gubahan Kanjeng Ratu Kidul, sedangkan nama semang (Bedhaya semang) diberikan oleh Sultan Agung. Tari bedhaya semang tersebut dipagelarkan untuk kepentingan ritual istana, seperti peristiwajumenengan. Berdasarkan tradisi yang telah ada, jumlah penari bedhaya terdiri dari sembilan orang. Penari Bedhaya tersebut mendapatkan status sebgai pegawai Kraton dengan sebutan abdi dalem Bedhaya (Lihat abdi dalem bedhaya). Jumlah penari sembilan orang dipahami sebagai lambang arah mata angin, arah kedudukan bintang-bintang (planet-planet) dalam kehidupan alam semesta, dan lambang lubang hawa sebagai kelengkapan jasmaniah manusia (babadan hawa sanga, Jawa), yakni dua lubang hidung, dua lubang mata, dua lubang telinga, satu lubang kemaluan. Satu lubang mulut dan satu lubang dubur. Penari Bedhaya semang yang berjumlah sembilan orang terdiri dari : batak, endhel, jangga (gulu), apit ngajeng, apet wingking, dhadha, endhel wedalam ngajeng, endhel wedalan wingking dan buntil.
      Para penari Bedhaya semang memakai busana yang sama. Hal itu merupakan simbolisasi bahwa setiap manusia terlahir dalam keadaan dan wujud yang sama. Namun demikian tata busana yang dipakai para penari mengalami perubahan sesuai dengan kehendak sultan yang sedang memerintah.  Busana yang dikenakan para penaribedhaya semang pada masa Sultan Hamengku Buwono I tidak diketahui bagaimana bentuknya karena tidak diketemukan gambar atau dukumen lainnya. Baru pada masa kekuasaan Sultan Hamengku Buwono V diperoleh gambaran secara rinci. Busana dan tata rias Tari Bedhaya semang mirip dengan busana dan rias mempelai istana. Busana tari Bedhaya semang mirip dengan hyusana dan rias mempelai istana. Busana Tari Bedhaya semang pada masa Sultan Hamengku Buwana VI adalah sebagai berikut : mekak (kemben, kain penutup badan atau dada), kain batik motif paranmg rusak sereden, udher cindhe, slepe dan keris sebagai lambang keprabon , hiasan kepala :rambut gelung bokor pakai klewer bunga melati, dikerik dipaes layaknya pengantin, cundhuk mentul, kelat bahu dan gelang yang kesemuanya menyerupaui pengantin istana. 
      Pada masa pemerintahan Sultan Hamenku Buwana VII secara garis besar, busana yang dikenakan para penari Bedhaya semang masih sama dengan sebelumnya ( Sultan Hamengku Buwana VI) yaitu menggunakan baju tanpa lengan yang diberi gombyok, kain seredan, udhet cindhe, irambut digelung bokor dengan klewer di balut dengan bunga melati, cunduk mentul, dipaes juga seperti halnya pengantin, memakai gelang, slepe dan keris. Pada masa Sultan Hamengku Buwana VIII pakaian penariBedhaya semang sudah agak berbeda, tidak kerikan, tetapi menggunakan hiasan kepala jamang dan bulu-bulu, gelung bokor, ron kalung sung-sun, kelat bahu, gelang, baju tanpa lengan seperti pada masa Hamengku Buwana VII, kain seredan motif prang rusak, udhet cindhe. Pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana IX dan X yang dikenakan penari sama dengan yang digunakan pada masa  Sultan Hamengku Buwana VIII. Properti yang digunakan pada Tari Bedhaya Semangi dalam adegan peperangan dipergunakan senjata, yaitu : keris.
      Komposisi tari Bedhaya yang berjumlah sembilan  juga diasosiasikan dengan struktur tubuh manusia yang terdiri dari  satu hati, satu kepala, satu leher, dua lengan, satu dada, dua tungkai, dan satu organ seks. Susunan penari tari dalam Bedhaya semang sebagai berikut :   
Keterangan :
1.       Endhel
2.       Batak
3.       Jangga
4.       Apit ngajeng
5.       Apit wingking
6.       Dhadha
7.       Endhel wedalan ngajeng
8.       Endhel wedalan wingking
9.       Buntil
Jumlah angka sembilan melambangkan jumlah bilangan terbesar dan mempunyai arti yang sangat penting dalam pemikiran-pemikiran metafisika maupun kepercayaan orang Jawa. Selain itu jumlah sembilan dapat juga dipahami sebagai lambang mikroskopis (jagading manusia), yang dapat dilihat dalam peran yang yang dibawakan pada seiap penari yaitu :
§         Peran penari batak merupakan simbol akal pikiran dalam setiap jiwa manusia.
§         Peran endhel merupakan simbol dari perwujudan nafsu yang timbul dari hati,
§         Peran dhadha, merupakan perwujudan dhadha manusia , tempat mengendalikan diri.
§         Peran jangga, merupakan perwujudan leher (gulu, jawa) manusia.
§         Peran apit ngajeng merupakan perwujudan lengan kanan manusia
§         Peran apit wingking, merupakan perwujudan lengan kiri manusia
§         Peran endhel wedalan ngajeng merupakan perwujudan tungkai kanan manusia
§         Peran endhel wedalan wingking merupakan perwujudan tungkai kiri manusia.
§         Peran buntil merupakan perwujudan alat kelamin (organ seks).
     
      Dalam tari Bedhaya semang, batak merupakan peran utama. Sedangkan endhel  merupakan simbol kehendak di dalam setiap diri manusia. Peperangan terjadi antara peranan batak melawan endhel dalam posisi jengkang. Gerakan-gerakan tari Bedhaya semang bersifat kaku dan tidak boleh dilanggar, karena dalam setiap gerakan memiliki makna dan menyimbolkan maksud- maksud tertentu.
      Gending yang dipergunakan untuk mengurangi tari bedhaya semang merupakan gending khusus dan perangkat gamelan khusus pula. Iringan yang dipakai dalam tariBedhaya semang                                                        merupakan perpaduan antara instrumen musik jawa dengan instrumen musik Barat meliputi  : alat tiup (trombone), dan instrumen musik gesek. Tercatat Serat Babad Nut Semang Bedhaya merupakan acuan dalam mengiringi tari Bedhaya semang. Lirik yang ada pada tari Bedhaya semang mengisahkan percintaan antara Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kencono sari atau Ratu Kidul. Pada perkembangan selanjutnya tari Bedhoyo semangmenjadi induk dari beksan Budhaya di Kraton Yogyakarta.

Kamis, 26 Februari 2015

Posted by Unknown On 22.02
                 
                 Muatan makna simbolik filosofis yang begitu tinggi dalam tari Bedhaya, menyebabkan genre tari ini senantiasa ditempatkan sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan yang paling penting di keraton-keraton Jawa. Di Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, tarian ini dianggap sebagai salah satu atribut sang raja, yang pada gilirannya juga berfungsi sebagai sarana untuk melegitimasi kekuasaan dan kewibawaan para Sultan atau Sunan. Tari Bedhaya Bedhah Madiun merupakan sebuah tari Bedhaya ciptaan Hamengku Buwana VII seorang Sultan Yogyakarta. Sesuai dengan pandangan filosofis yang melatarbelakanginya serta berdasarkan fenomena visualnya, tari Bedhaya Bedhah Madiun merupakan gambaran proses kehidupan manusia dalam mencapai kesejahteraan dan menuju kesempurnaan. Niat dari setiap pelembagaan tari Bedhaya adalah untuk state ritual, yang bisa dilihat di dalam Kandha Bedhaya Srimpi, yakni selalu ditujukan untuk membangun kesejahteraan serta kemakmuran rakyat dan negara. Hal itu terkait dengan kelangsungan kekuasaan sang raja, upaya semakin meningkatkan kewibawaan dan kemashuran, serta harapan agar sang raja mendapatkan anugerah usia yang panjang.

Rabu, 25 Februari 2015

Posted by Unknown On 21.21




Jumlah penari bedhaya dapat diartikan atau diasosiasikan sebagai berikut :
1.     Melambangkan 9 arah mata angin
2.    Melambangkan 9 lubang pada tubuh manusia
3.    Struktur tubuh manusia yang terdiri dari satu kepala, satu hati, satu leher, dua lengan, satu dada, dua tungkai, dan satu organ seks
Posted by Unknown On 21.17




1. Bedhaya Ketawang
          Dedhaya Ketawang bukan suatu tarian yang semata-mata untuk tontonan, karena tari ini hanya ditarikan untuk sesuatu yang khusus dalam suasana yang resmi sekali. Seluruh suasana jadi sangad khudus, sebab tarian ini hanya dipergelarkan berhubungan berhubungan dengan peringatan ulang tahun tahta kerajaan saja. Jadi tarian ini hanya sekali setahun dipergelarkannya Selama tarian berlangsung tiada hidangan keluar, juga tidak dibenarkan orang merokok. Makanan, minuman atau pun rokok dianggap hanya akan mengurangi kekhidmatan jalannya upacara adat yang suci ini.
          Bedhoyo Ketawang ini dipandang sebagai suatu tarian ciptaan Ratu diantara seluruh mahluk halus. Bahkan orang pun percaya bahwa setiap kali Bedhoyo Ketawang ditarikan, sang pencipta selalu hadir selalu hadir juga serta ikut menari. Tidak setiap orang dapat melihatnya, hanya pada mereka yang peka saja sang pencipta menampakkan diri. Konon dalam latihan-latihan yang dilakukan, serig pula sang pencipta ini membetul-betulkan kesalahan yang dibuat oleh para penari. Bila mata orang awam tidak melihatnya, maka penari yang bersangkutan saja yang merasakan kehadirannya.Dalam hal ini ada dugaan, bahwa semula Bedhoyo Ketawang itu adalah suatu tarian di candi-candi.
2. Bedhaya Semang
          Tari putri klasik di Istana Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I dan dianggap sebagai pusaka. Hal ini dapat dibuktikan pada saat awal pertunjukannya para penari keluar dari Bangsal Prabayeksa, yaitu tempat untuk menyimpan pusaka-pusaka Kraton menuju Bangsal Kencono. Tari Bedhaya Semang yang sangat disakralkan oleh Kraton merupakan reaktualisasi hubungan mistis antara keturunan Panembahan Senopati sebagai Raja Mataram Islam dengan penguasa Laut Selatan atau Ratu Laut Selatan, yaitu Kanjeng Ratu Kidul. Menurut Babad Nitik, Bedhaya adalah gubahan Kanjeng Ratu Kidul, sedangkan nama semang (Bedhaya semang) diberikan oleh Sultan Agung. Tari bedhaya semang tersebut dipagelarkan untuk kepentingan ritual istana, seperti peristiwa jumenengan. Berdasarkan tradisi yang telah ada, jumlah penari bedhaya terdiri dari sembilan orang. Penari Bedhaya tersebut mendapatkan status sebgai pegawai Kraton dengan sebutan abdi dalem Bedhaya (Lihat abdi dalem bedhaya). Jumlah penari sembilan orang dipahami sebagai lambang arah mata angin, arah kedudukan bintang-bintang (planet-planet) dalam kehidupan alam semesta, dan lambang lubang hawa sebagai kelengkapan jasmaniah manusia (babadan hawa sanga, Jawa), yakni dua lubang hidung, dua lubang mata, dua lubang telinga, satu lubang kemaluan. Satu lubang mulut dan satu lubang dubur. Penari Bedhaya semang yang berjumlah sembilan orang terdiri dari : batak, endhel, jangga (gulu), apit ngajeng, apet wingking, dhadha, endhel wedalam ngajeng, endhel wedalan wingking dan buntil.
      Para penari Bedhaya semang memakai busana yang sama. Hal itu merupakan simbolisasi bahwa setiap manusia terlahir dalam keadaan dan wujud yang sama. Namun demikian tata busana yang dipakai para penari mengalami perubahan sesuai dengan kehendak sultan yang sedang memerintah.

3. Bedhaya Sabda Aji
         
          Ditarikan oleh sembilan orang, bercerita tentang sabda (perintah) aji (raja) atau perintah Sri Sultan HB IX kepada para empu tari untuk menyempurnakan tari golek menak. Salah satu penari dalam Bedhaya Sabda Aji adalah putri sulung Sri Sultan HB X, GKR Pembayun.
4. Bedhaya Angron Sekar
          Cerita dalam bedhaya ini adalah Sutawijaya yang menaklukan Arya Penangsang. Istri Arya Penangsang, Angron Sekar, yang tahun kalau pasangannya ditaklukkan Sutawijya bermaksud balas dendam. Namun akhirnya justru Angron Sekar jatuh cinta terhadap Sutawijaya.
          Bedhaya Angron Sekar ini merupakan karya dari K.R.T. Sasmintadipura.
5. Bedhaya Herjuna Wiwaha
          Bedhaya ini menceritakan proses pengangkatan KGPH Mangkubumi menjadi Sri Sultan HB X
6. Bedhaya Sumreg
          Bedhaya Sumreg atau Sumbreg merupakan salah satu "bedhaya pusaka" milik Kraton Yogyakarta. Bedhaya Sumreg ini memiliki arti sebagai bidadari yang menari dengan iringan gending ageng Ladrang dan Ketawang. Bedhaya Sumreg pertama kali muncul pada masa Sri Susushunan Paku Buwono I (Geger Spei).
          Setelah Mataram pecah menjadi Kasuhunan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono I menyusun lagi Bedhaya Sumreg seiring dengan pendirian Kasultanan Yogyakarta. Dikisahkan pula saat Sri Sultan Hamengkubuwana I melabuh di Pantai Parangkusuma, beliau disambut dengan Bedhaya Sumreg yang ditarikan oleh para penari dari Pantai Selatan.
          Bedhaya Sumreg ini mengkisahkan tentang sikap dan cara yang ditempuh oleh para pemimipin dalam mengatasi berbagi persoalan di jamannya. Pesan yang disampaikan oleh Bedhaya ini adalah agar kehidupan manusia di bumi kembali saling menghargai dan menghormati segala bentuk perbedaan dengan berlandaskan hubungan kekeluargaan, berbudaya, dan beragama.
7. Bedhaya Sang Amurwabhumi
          Salah satu jenis tari klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana X. Karya tari ini merupakan legitimasi Sri Sultan Hamengku Buwana X kepada swargi (almarhum Sri Sultan Hamengku Buwana IX), yang mempunyai konsep filosofis, yakni setia kepada janji, berwatak tabah, kokoh, toleran, selalu berbuat baik dan sosial, konsep dan ide dasar tari ini dari Sri Sultan Hamengku Buwana X. Sedangkan koreografinya oleh K.R.T.Sasmintadipura.
          Bedhaya Sang Amurwabhumi dipentaskan pertama kali di Bangsal Kencono pada saat pengangkatan dan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tahun 1990.
          Bedhaya Sang Amurwabhumi ditarikan oleh sembilan putri (penari) dan berdurasi dua setengah (2,5 ) jam, diiringi irama dramatik yang menggambarkan kelembutan sebagai simbolisasi yang paling hakiki karena setiap raja selalu mempunyai ekspresi dan konsep sendiri dalam setiap pengabdian kepada rakyatnya dengan mencoba menggalang kepemimpinan yang baik, melalui pola pikir untuk mengayomi dan mensejahterakan rakyat.
          Bedhaya Sang Amurwabhumi seperti juga dengan bedhaya yang lain sesuai dengan tradisi tetap mengacu pada patokan baku tari bedhaya. Dasar ceritanya diambil dari Serat Pararaton atau Kitab Para Ratu Tumapel dan Majapahit, yang selesai ditulis bertepetan pada hari Sabtu Pahing. Bedhaya Sang Amurwabhumi mengambil sentral pada perkimpoian sang Amurwabhumi (Ken Arok) dengan Prajnaparamita (Ken Dedes) mensimbolisasikan spirit patriotisme dan filosofi kepemimpinan.
8. Bedhaya Pangkur
9. Bedhaya Duradasih
10. Bedhaya Mangunkarya
11. Bedhaya Sinom
12. Bedhaya Endhol – Endhol
13. Bedhaya Gandrungmanis
14. Bedhaya Kabor
15. Bedhaya Tejanata